Jumat, 03 Januari 2014

Jenis-Jenis Karangan

Karangan berdasarkan tujuannya dapat dibedakan menjadi beberapa jenis yakni:

1.   DESKRIPSI
Karangan ini berisi gambaran mengenai suatu hal/ keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasakan hal tersebut. tulisan yang tujuannya memberikan perincian atau detail tentang objek sehingga dapat memberi pengaruh pada sentivitas dan imajinasi pembaca atau pendengar bagaikan mereka ikut melihat, mendengar, merasakan, atau mengalami langsung objek tersebut (Semi, 2003:41)
Deskripsi bertujuan menyampaikan sesuatu hal dalam urutan atau rangka ruang dengan maksud untuk menghadirkan di depan mata angan-angan pembaca segala sesuatu yang dilihat, didengar, dicecap, diraba, atau dicium oleh pengarang. (Widyamartaya, 1992:9-10)
Menurut Semi (2003:41), deskripsi ini merupakan ekposisis juga, sehingga ciri umum yang dimiliki oleh ekposisi pada dasarnya dimiliki pula oleh deskripsi. Lebih lanjut, Semi (2003:41) mengatakan bahwa ciri-ciri deskripsi yang sekaligus sebagai pembeda dengan ekposisi adalah sebagai berikut.
·        Deskripsi lebih berupaya memperlihatkan detail atau perincian tentang objek.
·        Deskripsi lebih bersifat memberi pengaruh sensitivitas dan membentuk imajinasi pembaca.
·        Deskripsi disampaikan dengan gaya yang nikmat dengan pilihan kata yang menggugah; sedangkan ekposisi gayanya lebih lugas.
·        Deskripsi lebih banyak memaparkan tentang sesuatu yang dapat didengar dilihat, dan dirasakan sehingga objeknya pada umumnya berupa benda, alam, warna, dan manusia.
·        Organisasi penyampaiannya lebih banyak menggunakan susunan ruang (spartial order)

Ø Jenis Karangan Deskripsi
Secara garis besar ada 2 macam bentuk karangan deskripsi:

1.     Deskripsi Ekspositori
Merupakan karangan yang sangat logis, biasanya merupakan daftar rincian atau halyang penting-penting saja yang disusun menurut sistem dan urutan-urutan logis obJek yang diamati.

2.     Deskripsi Impresionatis
Merupakan karangan yang menggambarkan impresi penulisnya, atau untuk menetralisir pembacanya. Deskripsi impresionistis ini lebih menekankan impresi atau kesan penulisnya ketika melakukan observasi atau ketika melakukan impresi tersebut.

Ø Contoh Karangan Deskripsi
Lapangan sekolah kami berada tepat di tengah-tengah gedung sekolah. Di setiap sisi lapangan terdapat taman-taman kecil dengan aneka bunga dan tumbuhan lainnya. Lapangan tersebut berukuran setengah 100 x120 meter. Lumayan luas, bukan? Selain untuk upacara penaikan bendera, kadang kami menggunakan lapangan tersebut untuk bermain basket atau sepak bola. Di sebelah utara, tepatnya di dekat kelas kami, terdapat tiang bendera. Adapun di sebelah timur dan barat terdapat ring basket. Di bagian-bagian tertentu ada lubang yang berguna sebagai pancang tiang untuk net voli atau net sepak takraw. (Somad, 2007). 

2.   NARASI
Narasi merupakan karangan kisahan yang memaparkan terjadinya sesuatu peristiwa, baik peristiwa kenyataan, maupun peristiwa rekaan. Pada narasi terdapat peristiwa atau kejadian dalam satu urutan waktu. Di dalam kejadian itu ada pula tokoh yang menghadapi suatu konflik. Ketiga unsur berupa kejadian, tokoh, dan konflik merupakan unsur pokok sebuah narasi. Jika ketiga unsur itu bersatu, ketiga unsur itu disebut plot atau alur.

Ø Jenis-jenis narasi

a.      Narasi informative
Narasi yang memiliki sasaran penyampaian informasi secara tepat tentang suatu peristiwa dengan tujuan memperluas pengetahuan orang tentang kisah seseorang.

b.     Narasi ekspositorik
Narasi yang memiliki sasaran penyampaian informasi secara tepat tentang suatu peristiwa dengan tujuan memperluas pengetahuan orang tentang kisah seseorang. Dalam narasi ekspositorik, penulis menceritakan suatu peristiwa berdasarkan data yang sebenarnya. Pelaku yang ditonjolkan biasanya, satu orang. Pelaku diceritakan mulai dari kecil sampai saat ini atau sampai terakhir dalam kehidupannya. Karangan narasi ini diwarnai oleh eksposisi, maka ketentuan eksposisi juga berlaku pada penulisan narasi ekspositprik. Ketentuan ini berkaitan dengan penggunaan bahasa yang logis, berdasarkan fakta yang ada, tidak memasukan unsursugestif atau bersifat objektif.

c.      Narasi objektif
Narasi yang berusaha untuk memberikan suatu maksud tertentu, menyampaikan suatu amanat terselubung kepada para pembaca atau pendengar sehingga tampak seolah-olah melihat. Ketentuan ini berkaitan dengan penggunaan bahasa yang logis, berdasarkan fakta yang ada, tidak memasukan unsur sugestif atau bersifat objektif.

d.     Narasi sugestif
Narasi yang berusaha untuk memberikan suatu maksud tertentu, menyampaikan suatu amanat terselubung kepada para pembaca atau pendengar sehingga tampak seolah-olah melihat.

Narasi dibangun oleh sebuah alur cerita. Alur ini tidak akan menarik jika tidak ada konfiks. Selain alur cerita, konfiks dan susunan kronologis. Ciri-ciri karangan narasi menurut Atar Semi (2003:31) adalah sebagaiu berikut:
·       Berupa cerita tentang peristiwa atau pengaalaman penulis.
·       Kejadian atau peristiwa yang disampaikan berupa peristiwa yang benar-benar terjadi, dapat berupa semata-mata imajinasi atau gabungan keduanya.
·       Berdasarkan konfiks, karena tanpa konfiks biasanya narasi tidak menarik.
·       Memiliki nilai estetika.
·       Menekankan susunan secara kronologis

Ø Contoh Karangan Narasi
Minggu, 23 April, Pukul 08.00 pagi, peserta perjalanan ”Susur Sungai Cikapundung” sudah mulai berkumpul di sekretariat KMPA di Sunken Court W–03. Satu jam kemudian, rombongan berangkat menuju Curug Dago, dengan sedikit naik ke arah hulu di mana perjalanan itu dimulai. Tanpa ragu, peserta mulai menyusuri Cikapundung meskipun ketinggian air hampir mencapai sebatas pinggang. Ketinggian air pun meningkat sekitar 50 cm setelah hujan deras mengguyur Bandung hampir sehari penuh kemarin, Sabtu 22 April 2006. Hari tersebut bertepatan dengan Hari Bumi.
Derasnya air Sungai Cikapundung tidak mengecilkan hati para peserta yang mengikuti acara ”Susur Sungai Cikapundung”.  Acara ”Susur Sungai Cikapundung” ini merupakan salah satu acara dari serangkaian kegiatan Pekan Hari Bumi se–ITB yang diadakan oleh Unit Kegiatan KMPA (Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam) yang bekerja sama dengan PSIK (Perkumpulan Studi Ilmu Masyarakat).  Acara ”Susur Sungai Cikapundung” ini diikuti oleh 24 orang  yang terdiri atas berbagai unit kegiatan ITB seperti PSIK,  KMPA, Teknik Pertambangan, Nymphea, Planologi dan 3 orang pelajar dari SMP al-Huda dan satu pelajar dari SMK Dago. (Somad, 2007).

3.   EKSPOSISI
Karangan ini berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi atau pengetahuan tambahan bagi pembaca. Untuk memperjelas uraian, dapat dilengkapi dengan grafik, gambar atau statistik.
Menurut A. Chaedar Alwasilah dan Semmy Suzanna Alwasilah (2005:111) Dalam Pokoknya Menulis eksposisi merupakan tulisan yang tujuan utamanya mengklarifikasi, menjelaskan, mendidik, atau mengevaluasi sebuah persoalan. Penulis berniat untuk memberi informasi atau memberi petunjuk kepada pembaca. Di sini eksposisi mengandalkan strategi pengembangan alinea seperti lewat pemberian contoh, proses, sebab akibat, klasifiksasi, definisi, analisis, komperasi dan kontras.
Menurut Aceng Hasani (2005: 30) dalam buku Ikhwal Menulis juga mendefinisikan bahwa eksposisi merupakan bentuk tulisan yang sering digunakan dalam menyampaikan uraian ilmiah dan tidak berusaha mempengaruhi pendapat pembaca. Melalui eksposisi pembaca tidak dipaksa untuk menerima pendapat penulis, setiap pembaca boleh menolak dan menerima apa yang dikemukakan oleh penulis.
Topik yang diangkat berdasarkan data faktual, yaitu suatu kondisi yang benar-benar terjadi, ada, dan dapat bersifat historis tentang bagaimana suatu alat bekerja, bagaimana suatu peristiwa terjadi, dan sebagainya dengan kata lain, penafsiran objektif suatu topik di dukung oleh seperangkat fakta.
Menurut Aceng Hasani (2005:31) ciri-ciri karangan eksposisi sebagai berikut :
·       Penjelasannya bersifat informative
·       Pembahasan masalahnya bersifat objektif
·       Penjelasannya disertakan dengan bukti-bukti yang konkret (tidak mengada-ada)
·       Pembahasannya bersifat logis atau sesuai dengan penalaran

Berdasarkan cara atau metode penguraiannya, karangan eksposisi dapat dibedakan ke dalam beberapa karangan eksposisi. Ada beberapa jenis pengembangan dalam paragraf eksposisi;
a.      eksposisi definisi
b.     eksposisi proses
c.      eksposisi klasifikasi
d.     eksposisi ilustrasi (contoh)
e.      eksposisi perbandingan & pertentangan, dan
f.       eksposisi laporan

Ø Contoh Karangan Eksposisi
Flu burung adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus inluenza yang ditularkan oleh unggas yang dapat menyerang manusia. Nama lain dari penyakit ini antara lain avian inluenza. Adapun definisi dari berbagai kasusnya adalah sebagai berikut.
1.     Kasus Suspect
Kasus suspect adalah kasus seseorang yang menderita ISPA dengan gejala demam (temperatur 38°C), batuk dan atau sakit tenggorokan dan atau beringus serta dengan salah satu keadaan. Hal ini terjadi biasanya karena seminggu terakhir mengunjungi peternakan yang sedang berjangkit flu burung. Kemudian, orang tersebut kontak dengan virus lu burung yang dalam masa penularan. Hal lainnya jika orang yang bekerja pada suatu laboratorium dan sedang memproses spesimen manusia atau binatang yang dicurigai menderita flu burung.
2.     Kasus Probable
Kasus  probable adalah kasus  suspect disertai salah satu keadaan bukti laboratorium terbatas yang mengarah kepada virus inluenza A (H5N1). Misalnya, test HI yang menggunakan antigen H5N1 dalam waktu singkat berlanjut menjadi pneumonial gagal pernapasan atau meninggal dan terbukti tidak adanya penyebab lain. (Somad, 2007).

4.   ARGUMENTASI
Karangan ini bertujuan membuktikan kebenaran suatu pendapat/ kesimpulan dengan data/ fakta sebagai alasan/ bukti. Dalam argumentasi pengarang mengharapkan pembenaran pendapatnya dari pembaca. Adanya unsur opini dan data, juga fakta atau alasan sebagai penyokong opini tersebut.
Ciri Ciri pargaraf argumentasi merupakan tipe paragraf yang mengutarakan inspirasi, inspirasi, atau pendapat penulis dengan diikuti bukti serta fakta ( serius berjalan ).  tujuannya merupakan biar pembaca meyakini bahwa inspirasi, inspirasi, atau pendapat tersebut merupakan benar serta bisa di buktikan. itulah sedikit pengertian mengenai paragraf argumentasi semoga bermanfaat dan dapat dimengerti dengan baik.
Paragraf argumentasi memiliki dua pola pengembangan, yakni sebagaimana berikut :

a.      sebab ke akibat, yakni tipe pola pengembangan paragraf argumentasi yang berawal dari moment yang dikira sebagai pemicu, selanjutnya menuju pada ikhtisar yang berbentuk dampak atau akibat yang disebabkan dari suatu kejadian.
b.     akibat ke sebab, ialah paragraf ini di mulai dari menjelaskan satu persoalan yang dikira sebagai akibat selanjutnya bergerak menuju perihal yang dikira sebagai pemicu persoalan.

Ø Contoh Karangan Argumentasi
Dengan perubahan pola pada program ospek, yakni dengan meninggalkan pola perpeloncoan, tentunya masyarakat lebih banyak yang setuju. Lain halnya terhadap ospek yang disertai hukuman-hukuman dengan alasan menguji mental, menempa kekuatan isik, sumpah serapah, atau mengenakan atribut  lucu-lucuan, mungkin akan lebih banyak yang menolaknya. Bagi para orangtua, misalnya –di samping bangga dan bahagia– sudah cukup berat dan repot tatkala anaknya diterima di perguruan tinggi. Mereka bukan saja harus menyediakan dana cukup besar untuk bayar uang kuliah, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan lain seperti uang kos dan biaya sehari-hari bagi mereka yang berasal dari luar kota. Jika dibebani lagi harus beli ini itu untuk kegiatan ospek, rasanya beban tersebut semakin menumpuk. Lebih kecewa dan sakit lagi jika anaknya tiba-tiba harus pulang karena jadi korban kelalaian mahasiswa seniornya.
Sekali lagi, kita patut bersyukur karena tampaknya kegiatan ospek di kampus-kampus sudah ada perubahan ke arah yang lebih bermakna positif. Sudah saatnya kita meninggalkan perpeloncoan. Hidup ini sudah begitu keras untuk diperjuangkan, jangan ditambah lagi dengan kekerasan yang lain. (Somad, 2007).

5.   PERSUASI
Karangan persuasi adalah suatu bentuk karangan yang bertujuan membujuk pembaca agar mau berbuat sesuatu sesuai dengan keinginan penulisnya. Agar tujuannya dapat tercapai, penulis harus mampu mengemukakan pembuktian dengan data dan fakta Karangan ini bertujuan mempengaruhi pembaca untuk berbuat sesuatu. Pengarang mengharapkan adanya sikap motorik perbuatan yang dilakukan oleh pembaca sesuai dengan yang dianjurkan penulis dalam karangannya.

Ø Ciri-ciri / karakteristik karangan persuasi:
·       Terdapat himbauan atau ajakan
·       Berusaha mempengaruhi pembaca

Ø Contoh Karangan Persuasi
Jika senang bepergian, Anda tentunya memiliki banyak persiapan dalam menghadapi liburan ini. Persiapan yang terpenting adalah kesehatan fisik. Anda tidak mungkin dapat berlibur jika terserang penyakit. Oleh karena itulah, kami ciptakan sebuah produk multivitamin terbaik. Selain vitamin A, B Kompleks, dan vitamin C, multivitamin ini pun diperkaya oleh vitamin D yang dapat menguatkan tulang, serta vitamin E agar kulit Anda senantiasa sehat. Dengan tubuh yang sehat dan bugar, berbagai aktivitas dapat Anda lakukan dengan bersemangat. Jika Anda ingin senantiasa sehat dan mendapatkan khasiat dari Xavier-C, segera kunjungi apotek terdekat di kota Anda. Dijamin, Anda tidak akan pernah merasa kecewa. (Somad, 2007).


SUMBER
         http://nulisonline.wordpress.com/2013/04/05/jenis-jenis-karangan/

Aku Bangga Behijab ♥

         Aku hanyalah seorang gadis manja dengan rambut panjang yang masih bersekolah di Sekolah Menengah Atas Negeri di Jakarta. Aku mempunyai rambut yang cukup panjang, tergerai dan sesekali aku kuncir kuda bila sudah merasa gerah. Dan memang rambut panjang ku itu yang membuat aku selama ini merasa percaya diri dengan penampilanku.
          Aku bersahabat dengan Dina, Siti, Lia, dan Fara. Kami semua berambut panjang. Aku, Lia, dan Fara mempunyai rambut panjang dan lurus, sedangkan Siti mempunyai rambut panjang yang bergelombang. Sekarang aku sudah menduduki bangku kelas 3 disekolah, dan kami sudah bersahabat sejak kelas 2  yang kebetulan kami selalu sekelas.
             “Lia, dimana jilbab mu ?cepat kenakan” seru guru perempuan yang sudah dikenal kiler di sekolah.
             “Iya bu” jawab Lia dengan nada panik sambil bergegas mengambil jilbabnya.
          Aku dan Fara yang melihat itu dari belakang pun langsung bersembunyi dan dengan tergesa-gesa mengenakan jilbab sebelum terlihat oleh guruku tadi. Tapi, setelah guruku pergi, kami membuka lagi jilbabnya karena memang tidak betah menggunakannya. Siti hanya tertawa melihat tingkah kami yang gerasak-gerusuk seperti ini, dia memang sudah mengenakan jilbabnya dari rumah karena memang setiap hari Jumat sekolahku mewajibkan untuk mengenakan pakaian muslim, kemeja tangan panjang beserta dengan jilbabnya.
          Sejak dulu aku di SMP, memang sudah seperti itu peraturannya, kalau hari Jumat harus rapih mengenakan jilbab, tapi memang selalu saja aku melanggarnya dan malah bersembunyi dari guru-guru yang mengawasi kedisiplinan di hari itu. Entah kenapa aku lebih nyaman membiarkan rambutku tergerai dari pada aku harus mengenakan jilbab yang menurutku hanya membuatku semakin gerah.
          Tidak terasa waktu begitu cepat. Dulu aku pikir 3 tahun itu adalah waktu yang lama, tapi ternyata salah. Sedikit lagi aku akan melepas pakaian putih abu-abu yang katanya masa-masa itu lah yang paling banyak menyimpan kenangan indah.
             “Hari ini hari terakhir UN, semoga hasil ujian kita bagus yaa, dan kita semua lulus dengan nilai yang memuaskan” harap Dina dengan cemas.
             “Aamiin, semoga kita bisa membuat orang tua kita bangga” Jawab Fara yang memang selama ini dia sangat takut membuat orang tuanya kecewa atau sedih. Sebenarnya bukan hanya Fara, kami semua pun sangat tidak mau membuat orang tua kita kecewa akan apa yang kita lakukan.
             “Iyaaa…kita udah usaha semaksimal yang kita bisa, semoga hasilnya memuaskan. Sekarang kita hanya tinggal banyak-banyak berdoa”
          Beberapa minggu kami menunggu, dan sampailah pada hari pengumuman. Hari yang paling menegangkan. Tapi Alhamdulillah doa kami seangkatan terkabul, kami semua lulus dari SMA. Setelah berjuang menghadapi UN, aku libur sangat panjang yang memang sudah ku tunggu-tunggu, sampai akhirnya aku merasa bosan dengan liburan ini.  Aku ingin cepat-cepat memasuki masa kuliah dengan teman baru dan suasana baru.
          Sebulan kemudian, aku memulai kuliah di suatu kampus swasta ternama di Jakarta. Perasaan senang karena akan menjadi mahasiswi dan juga perasaan takut karena tidak tahu apakah aku akan menemukan teman-teman yang baik seperti dulu, rasa itu bercampur menjadi satu. Aku memasuki kelas dengan rasa ragu, karena tidak seorangpun yang ku kenal. Tak lama setelah aku duduk, ada seorang yang datang dan duduk disebelahku mengajak berkenalan,
             “Hai, kenalin yaa, aku kia”
             “Oh yaa, aku dina. Kamu dari sekolah mana ?”
          Aku dan Kia berbincang-bincang cukup lama karena belum ada dosen yang masuk. Dan ternyata kami mempunyai beberapa teman yang sama, hal itu membuat kami menjadi semakin cepat akrab. Penampilan Kia tidak jauh berbeda dengan ku, dengan celana jeans panjang, sepatu tertutup, dan kaos tangan pendek. Karena merasa bosan dikelas, kami pun keluar dan duduk didepan kelas. Disana ada dua orang teman sekelasku dan Kia mengajak mereka berkenalan.
             “Hai…kenalin aku Kia, ini teman ku Dina”
             “Oh iya…aku Ami dan ini Sari”
          Akhirnya kita beremat berteman dekat, tapi penampilan Ami dan Sari sangat berbeda. Mereka mengenakan baju tangan panjang dan berhijab dengan sangat rapih. Aku tau bahwa sebenarnya berhijab itu wajib bagi seluruh wanita muslimah.
          Waktu berputar begitu cepat, tidak terasa semester 2 sudah selesai dan kami akan memulai semester 3. Sayangnya, semester 3 kelas diacak dan kampus yang menentukan kita masuk dikelas mana. Sangat kecil kemungkinannya untuk kami berempat bisa sekelsa lagi.
   “Aku mau kita sekelas aja sampai nanti kita lulus” kata Dina
   “Aku takut teman sekelas ku nanti tidak ada yang seperti kalian” keluh Kia dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.
   “Semoga nanti teman kelasnya baik-baik semua yaaaa, tapi aku tidak melanjutkan kuliah disini, aku akan pindak ke kota ku, aku ingin dekat dengan orang tua ku” cerita Sari sambil memeluk teman-temannya.
          Libur semester genap cukup lama, aku sudah mulai bosan diam dirumah tidak ada kegiatan. Aku menghubungi teman-teman SMA dan ternyata mereka juga masih libur. Akhirnya kita bertemu di rumah Lia.
   “Kangen banget loh sama kalian semua” ungkap Lia yang sudah lama ingin kumpul, tapi jadwal kuliah sangatlah padat.
             “Samaaaa…Aku juga udah kangen banget, tapi Siti mana yaa?” celingak-celingung mencari Siti.
             “Iya Siti belum sampe yaaaa? Aduh kebiasaan deh dia ngaret” Keluh Fara dengan wajah merengut”
          Tak lama kemudian terdengar suara yang begitu ramai dan heboh, ciri khas suara Siti, dia memang anak yang sangat ceria dan seperti tidak pernah punya masalah atau merasa sedih sepertinya.
“Haaaaiiiii cewe-cewe, kangeeeeeenn…tadi macet banget dijalan, jadi baru sampe deh” Cerita Siti dengan hebohnya.
Dina, Lia, dan Fara hanya diam terpaku melihat penampilan Siti yang begitu berbeda.
   “Ah alasan aja…paling emang jalannya udah ngaret kaaann, kebiasaan” Ledek Fara sambil menepuk pundak Siti.
   “Waaaaahh sekarang Siti berhijab? Cantik banget, kenapa ga dari dulu aja?” Dina bertanya dengan wajah keheranan.
   “Iya nih, udah lama pingin pake hijab, tapi baru yakin dan ngerasa siap setelah masuk kuliah kemarin. Kalian kapan nyusul? Jawabnya dengan ceria dan nada suara yang begitu semangat.
   “Aduh aku belum siap, masih berantakan kalo pake jilbab”
   “Yah nanti aja deh”
   “Belum yakin ah, nanti buka-buka lagi kan malu-maluin”
   “Iya nanti aja kalo udah kerja”
Adityo Hendradi.jpg   “Berhijab itu wajib loh, mau nunggu sampe kapan? Ah payah nih semuanya. Emang kalian rela diliat sama cowo yang pikirannya kemana-mana?” Siti meledek semua teman-temannya dengan wajah sedikit kesal. Dan semua pun hanya tertawa saja.


Tak terasa sudah hampir malam, dan akhirnya semua pun pulang, walau rasa kangennya belum selesai, tapi mereka semua memang tidak boleh pulang terlalu malam.
Seminggu kemudia liburan telah usai, tapi aku tidak bisa masuk kuliah karena sedang sakit. Pada hadi kedua aku baru masuk kelas dengan rasa senang karena memasuki kelas 2, takut karena tidak tau seperti apa teman-temannya, dan aku bukanlah orang yang dengan cepat bisa beradaptasi ditempat baru. Bukan karena sombong, tapi aku memang malu untuk memulai pembicaraan dengan orang-orang yang baru kukenal.
   “Eh kamu, baru masuk hari ini yaa, kemarin kemana? Kamu yang namanya Dina ya?” Tanya mahasiswi didepan.
   “Kemarin sakit, jadi baru masuk sekarang deh… Iya aku Dina”
   “Oh iyaaa, aku nina… Salam kenal yaa”
Aku tersenyum dan langsung mencari temat kosong untuk duduk. Aku merasa sangat canggung berada dikelas itu, tapi akhirnya aku bersahabat dengan Santi, Tia, dan Naya. Kali ini sangat berbeda, sekarang hanya aku saja yang rambut panjangnya tergerai. Yang lainnya berhijab sangat rapih dan tertutup. Dam memang kebetulan dikelas ku yang sekarang lebih banyak yang berhijab
Seperti biasa kami selalu shalat Dzhuhur bersama-sama, dan setelah shalat aku menemani yang lain merapihkan hijabnya di toilet karena disana ada cermin yang cukup besar.
   “Teman-teman ku bisa berhijab, bisa mematuhi perintah Allah SWT, kenapa aku enggak? Kapan aku berhijab” bergumam dalam hati dan mata pun berkaca-kaca menahan tangis.
   “Kamu kenapa Din? Kok bengong gitu?” Pertanyaan Santi yang mebuat Dina tiba-tiba kaget dan tersadar dari lamunannya.
   “Gak ada apa-apa kok San, aku gapapa, lagi ngelamun aja” Dina sambil tersenyum mengalihkan sedihnya.
   “Ngelamunin siapaaa hayoooo siang-siang beginii… haha udah jangan kebanyakan bengong ah Din” ledek Naya.
   “Aku pingin berhijab, tapi aku masih takut” curhat Dina.
   “Waaah bagus dong Din. Aku seneng banget malah dengernya. Terus apa yang kamu takutin? Kamu pasti tambah cantik kok kalo berhijab”
   “Aku takut, nanti kalo udah berhijab, aku buka-buka lagi. Kan malu”
   “Dulu aku juga berpikir sama kaya kamu kok Din. Tapi, lama-kelamaan aku nyaman dengan berhijab, malah kalau ga berhijab aku ga berani keluar rumah”
   “Iya sih, tapiii…”
   “Jangan kebanyakan tapi Din, kalo terlalu banyak alesannya kapan ngejalaninnya. Semua itu bisa karena terbiasa Din”
   “Dalemnya dulu aja deh yang dihijabin. Aku takut orang nilai berhijab tapi kok gimanaaa gitu…”
   “Beda Dinaaaa… Ga bisa disamain… kalau yang luarnya aja susah dihijabin, apa lagi dalemnya kan”
   “Iya Din. Jangan terlalu pikirin omongan orang yang ga enak. Mau gak mau, siap gak siap, kalo kita seorang muslimah, kita harus berhijab Din. Kita kan gak tau umur kita sampai kapan” Saut Santi dengan tegas.
   “Iya Din. Berhijab itu ga nungguin kita siap atau engga, karena setiap muslim wajib menutup auratnya”
Sepulang dari kampus, aku terus memikirkan perkataan teman-temanku. Memang belakangan ini aku selalu terpikir tentang berhijab, dan mulai sering belajar mengenakan hijab dikamarnya. Aku takut nanti hanya sempat menggunakan hijabnya yang pertama dan terakhir seperti kata Ustad Felix



          Aku juga terus memikirkan kalimat yang pernah ku baca “kamu bilang kamu tidak siap untuk berhijab, tetapi kamu siap pahalamu tercecer dan kamu rela memperlihatkan auratmu ke semua orang”
          Akhirnya sejak saat itu, aku memutuskan untuk mengenakan hijab kemanapun aku keluar rumah. Aku tidak mau dosaku semakin menumpuk dan terus menumpuk. Aku tidak mau membuat Allah SWT murka kepada ku. Aku bangga menjadi seorang muslimah dan aku bangga berhijab J