Aku hanyalah seorang gadis manja
dengan rambut panjang yang masih bersekolah di Sekolah Menengah Atas Negeri di
Jakarta. Aku mempunyai rambut yang cukup panjang, tergerai dan sesekali aku
kuncir kuda bila sudah merasa gerah. Dan memang rambut panjang ku itu yang
membuat aku selama ini merasa percaya diri dengan penampilanku.
Aku
bersahabat dengan Dina, Siti, Lia, dan Fara. Kami semua berambut panjang. Aku,
Lia, dan Fara mempunyai rambut panjang dan lurus, sedangkan Siti mempunyai
rambut panjang yang bergelombang. Sekarang aku sudah menduduki bangku kelas 3
disekolah, dan kami sudah bersahabat sejak kelas 2 yang kebetulan kami selalu sekelas.
“Lia, dimana jilbab mu ?cepat kenakan” seru
guru perempuan yang sudah dikenal kiler di sekolah.
“Iya bu” jawab Lia dengan nada panik sambil
bergegas mengambil jilbabnya.
Aku
dan Fara yang melihat itu dari belakang pun langsung bersembunyi dan dengan
tergesa-gesa mengenakan jilbab sebelum terlihat oleh guruku tadi. Tapi, setelah
guruku pergi, kami membuka lagi jilbabnya karena memang tidak betah
menggunakannya. Siti hanya tertawa melihat tingkah kami yang gerasak-gerusuk
seperti ini, dia memang sudah mengenakan jilbabnya dari rumah karena memang
setiap hari Jumat sekolahku mewajibkan untuk mengenakan pakaian muslim, kemeja
tangan panjang beserta dengan jilbabnya.
Sejak
dulu aku di SMP, memang sudah seperti itu peraturannya, kalau hari Jumat harus
rapih mengenakan jilbab, tapi memang selalu saja aku melanggarnya dan malah
bersembunyi dari guru-guru yang mengawasi kedisiplinan di hari itu. Entah
kenapa aku lebih nyaman membiarkan rambutku tergerai dari pada aku harus
mengenakan jilbab yang menurutku hanya membuatku semakin gerah.
Tidak
terasa waktu begitu cepat. Dulu aku pikir 3 tahun itu adalah waktu yang lama,
tapi ternyata salah. Sedikit lagi aku akan melepas pakaian putih abu-abu yang
katanya masa-masa itu lah yang paling banyak menyimpan kenangan indah.
“Hari ini hari terakhir UN, semoga hasil
ujian kita bagus yaa, dan kita semua lulus dengan nilai yang memuaskan” harap
Dina dengan cemas.
“Aamiin, semoga kita bisa membuat orang tua
kita bangga” Jawab Fara yang memang selama ini dia sangat takut membuat orang
tuanya kecewa atau sedih. Sebenarnya bukan hanya Fara, kami semua pun sangat
tidak mau membuat orang tua kita kecewa akan apa yang kita lakukan.
“Iyaaa…kita udah usaha semaksimal yang kita
bisa, semoga hasilnya memuaskan. Sekarang kita hanya tinggal banyak-banyak
berdoa”
Beberapa
minggu kami menunggu, dan sampailah pada hari pengumuman. Hari yang paling
menegangkan. Tapi Alhamdulillah doa kami seangkatan terkabul, kami semua lulus
dari SMA. Setelah berjuang menghadapi UN, aku libur sangat panjang yang memang
sudah ku tunggu-tunggu, sampai akhirnya aku merasa bosan dengan liburan ini. Aku ingin cepat-cepat memasuki masa kuliah
dengan teman baru dan suasana baru.
Sebulan
kemudian, aku memulai kuliah di suatu kampus swasta ternama di Jakarta.
Perasaan senang karena akan menjadi mahasiswi dan juga perasaan takut karena
tidak tahu apakah aku akan menemukan teman-teman yang baik seperti dulu, rasa
itu bercampur menjadi satu. Aku memasuki kelas dengan rasa ragu, karena tidak
seorangpun yang ku kenal. Tak lama setelah aku duduk, ada seorang yang datang
dan duduk disebelahku mengajak berkenalan,
“Hai,
kenalin yaa, aku kia”
“Oh yaa, aku dina. Kamu dari sekolah mana ?”
Aku
dan Kia berbincang-bincang cukup lama karena belum ada dosen yang masuk. Dan
ternyata kami mempunyai beberapa teman yang sama, hal itu membuat kami menjadi
semakin cepat akrab. Penampilan Kia tidak jauh berbeda dengan ku, dengan celana
jeans panjang, sepatu tertutup, dan kaos tangan pendek. Karena merasa bosan
dikelas, kami pun keluar dan duduk didepan kelas. Disana ada dua orang teman
sekelasku dan Kia mengajak mereka berkenalan.
“Hai…kenalin aku Kia, ini teman ku Dina”
“Oh iya…aku Ami dan ini Sari”
Akhirnya
kita beremat berteman dekat, tapi penampilan Ami dan Sari sangat berbeda.
Mereka mengenakan baju tangan panjang dan berhijab dengan sangat rapih. Aku tau
bahwa sebenarnya berhijab itu wajib bagi seluruh wanita muslimah.
Waktu
berputar begitu cepat, tidak terasa semester 2 sudah selesai dan kami akan
memulai semester 3. Sayangnya, semester 3 kelas diacak dan kampus yang
menentukan kita masuk dikelas mana. Sangat kecil kemungkinannya untuk kami
berempat bisa sekelsa lagi.
“Aku mau kita sekelas aja sampai nanti kita lulus” kata Dina
“Aku takut teman sekelas ku nanti tidak ada yang seperti kalian” keluh
Kia dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.
“Semoga nanti teman kelasnya baik-baik semua yaaaa, tapi aku tidak
melanjutkan kuliah disini, aku akan pindak ke kota ku, aku ingin dekat dengan
orang tua ku” cerita Sari sambil memeluk teman-temannya.
Libur
semester genap cukup lama, aku sudah mulai bosan diam dirumah tidak ada
kegiatan. Aku menghubungi teman-teman SMA dan ternyata mereka juga masih libur.
Akhirnya kita bertemu di rumah Lia.
“Kangen banget loh sama kalian semua” ungkap Lia yang sudah lama ingin
kumpul, tapi jadwal kuliah sangatlah padat.
“Samaaaa…Aku juga udah kangen banget, tapi
Siti mana yaa?” celingak-celingung mencari Siti.
“Iya Siti belum sampe yaaaa? Aduh kebiasaan
deh dia ngaret” Keluh Fara dengan wajah merengut”
Tak
lama kemudian terdengar suara yang begitu ramai dan heboh, ciri khas suara
Siti, dia memang anak yang sangat ceria dan seperti tidak pernah punya masalah
atau merasa sedih sepertinya.
“Haaaaiiiii cewe-cewe,
kangeeeeeenn…tadi macet banget dijalan, jadi baru sampe deh” Cerita Siti dengan
hebohnya.
Dina, Lia, dan Fara hanya diam
terpaku melihat penampilan Siti yang begitu berbeda.
“Ah alasan aja…paling emang jalannya udah ngaret kaaann, kebiasaan”
Ledek Fara sambil menepuk pundak Siti.
“Waaaaahh sekarang Siti berhijab? Cantik banget, kenapa ga dari dulu
aja?” Dina bertanya dengan wajah keheranan.
“Iya nih, udah lama pingin pake hijab, tapi baru yakin dan ngerasa siap
setelah masuk kuliah kemarin. Kalian kapan nyusul? Jawabnya dengan ceria dan
nada suara yang begitu semangat.
“Aduh aku belum siap, masih berantakan kalo pake jilbab”
“Yah nanti aja deh”
“Belum yakin ah, nanti buka-buka lagi kan malu-maluin”
“Iya nanti aja kalo udah kerja”
“Berhijab itu wajib loh, mau nunggu sampe kapan? Ah payah nih semuanya.
Emang kalian rela diliat sama cowo yang pikirannya kemana-mana?” Siti meledek
semua teman-temannya dengan wajah sedikit kesal. Dan semua pun hanya tertawa
saja.
Tak terasa sudah hampir malam, dan
akhirnya semua pun pulang, walau rasa kangennya belum selesai, tapi mereka
semua memang tidak boleh pulang terlalu malam.
Seminggu kemudia liburan telah usai, tapi aku tidak
bisa masuk kuliah karena sedang sakit. Pada hadi kedua aku baru masuk kelas
dengan rasa senang karena memasuki kelas 2, takut karena tidak tau seperti apa
teman-temannya, dan aku bukanlah orang yang dengan cepat bisa beradaptasi
ditempat baru. Bukan karena sombong, tapi aku memang malu untuk memulai
pembicaraan dengan orang-orang yang baru kukenal.
“Eh kamu,
baru masuk hari ini yaa, kemarin kemana? Kamu yang namanya Dina ya?” Tanya
mahasiswi didepan.
“Kemarin
sakit, jadi baru masuk sekarang deh… Iya aku Dina”
“Oh iyaaa,
aku nina… Salam kenal yaa”
Aku tersenyum dan langsung mencari temat kosong untuk duduk.
Aku merasa sangat canggung berada dikelas itu, tapi akhirnya aku bersahabat
dengan Santi, Tia, dan Naya. Kali ini sangat berbeda, sekarang hanya aku saja
yang rambut panjangnya tergerai. Yang lainnya berhijab sangat rapih dan
tertutup. Dam memang kebetulan dikelas ku yang sekarang lebih banyak yang
berhijab
Seperti biasa kami selalu shalat
Dzhuhur bersama-sama, dan setelah shalat aku menemani yang lain merapihkan
hijabnya di toilet karena disana ada cermin yang cukup besar.
“Teman-teman ku bisa berhijab, bisa mematuhi perintah Allah SWT, kenapa
aku enggak? Kapan aku berhijab” bergumam dalam hati dan mata pun berkaca-kaca
menahan tangis.
“Kamu kenapa Din? Kok bengong gitu?” Pertanyaan Santi yang mebuat Dina
tiba-tiba kaget dan tersadar dari lamunannya.
“Gak ada apa-apa kok San, aku gapapa, lagi ngelamun aja” Dina sambil
tersenyum mengalihkan sedihnya.
“Ngelamunin siapaaa hayoooo siang-siang beginii… haha udah jangan
kebanyakan bengong ah Din” ledek Naya.
“Aku pingin berhijab, tapi aku masih takut” curhat Dina.
“Waaah bagus dong Din. Aku seneng banget malah dengernya. Terus apa yang
kamu takutin? Kamu pasti tambah cantik kok kalo berhijab”
“Aku takut, nanti kalo udah berhijab, aku buka-buka lagi. Kan malu”
“Dulu aku juga berpikir sama kaya kamu kok Din. Tapi, lama-kelamaan aku
nyaman dengan berhijab, malah kalau ga berhijab aku ga berani keluar rumah”
“Iya sih, tapiii…”
“Jangan kebanyakan tapi Din, kalo terlalu banyak alesannya kapan
ngejalaninnya. Semua itu bisa karena terbiasa Din”
“Dalemnya dulu aja deh yang dihijabin. Aku takut orang nilai berhijab
tapi kok gimanaaa gitu…”
“Beda Dinaaaa… Ga bisa disamain… kalau yang luarnya aja susah dihijabin,
apa lagi dalemnya kan”
“Iya Din. Jangan terlalu pikirin omongan orang yang ga enak. Mau gak
mau, siap gak siap, kalo kita seorang muslimah, kita harus berhijab Din. Kita
kan gak tau umur kita sampai kapan” Saut Santi dengan tegas.
“Iya Din. Berhijab itu ga nungguin kita siap atau engga, karena setiap
muslim wajib menutup auratnya”
Sepulang dari kampus, aku terus memikirkan
perkataan teman-temanku. Memang belakangan ini aku selalu terpikir tentang
berhijab, dan mulai sering belajar mengenakan hijab dikamarnya. Aku takut nanti
hanya sempat menggunakan hijabnya yang pertama dan terakhir seperti kata Ustad
Felix
Aku
juga terus memikirkan kalimat yang pernah ku baca “kamu bilang kamu tidak siap
untuk berhijab, tetapi kamu siap pahalamu tercecer dan kamu rela memperlihatkan
auratmu ke semua orang”
Akhirnya sejak saat itu, aku
memutuskan untuk mengenakan hijab kemanapun aku keluar rumah. Aku tidak mau
dosaku semakin menumpuk dan terus menumpuk. Aku tidak mau membuat Allah SWT
murka kepada ku. Aku bangga menjadi seorang muslimah dan aku bangga berhijab J

.jpg)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar