Jumat, 03 Januari 2014

Aku Bangga Behijab ♥

         Aku hanyalah seorang gadis manja dengan rambut panjang yang masih bersekolah di Sekolah Menengah Atas Negeri di Jakarta. Aku mempunyai rambut yang cukup panjang, tergerai dan sesekali aku kuncir kuda bila sudah merasa gerah. Dan memang rambut panjang ku itu yang membuat aku selama ini merasa percaya diri dengan penampilanku.
          Aku bersahabat dengan Dina, Siti, Lia, dan Fara. Kami semua berambut panjang. Aku, Lia, dan Fara mempunyai rambut panjang dan lurus, sedangkan Siti mempunyai rambut panjang yang bergelombang. Sekarang aku sudah menduduki bangku kelas 3 disekolah, dan kami sudah bersahabat sejak kelas 2  yang kebetulan kami selalu sekelas.
             “Lia, dimana jilbab mu ?cepat kenakan” seru guru perempuan yang sudah dikenal kiler di sekolah.
             “Iya bu” jawab Lia dengan nada panik sambil bergegas mengambil jilbabnya.
          Aku dan Fara yang melihat itu dari belakang pun langsung bersembunyi dan dengan tergesa-gesa mengenakan jilbab sebelum terlihat oleh guruku tadi. Tapi, setelah guruku pergi, kami membuka lagi jilbabnya karena memang tidak betah menggunakannya. Siti hanya tertawa melihat tingkah kami yang gerasak-gerusuk seperti ini, dia memang sudah mengenakan jilbabnya dari rumah karena memang setiap hari Jumat sekolahku mewajibkan untuk mengenakan pakaian muslim, kemeja tangan panjang beserta dengan jilbabnya.
          Sejak dulu aku di SMP, memang sudah seperti itu peraturannya, kalau hari Jumat harus rapih mengenakan jilbab, tapi memang selalu saja aku melanggarnya dan malah bersembunyi dari guru-guru yang mengawasi kedisiplinan di hari itu. Entah kenapa aku lebih nyaman membiarkan rambutku tergerai dari pada aku harus mengenakan jilbab yang menurutku hanya membuatku semakin gerah.
          Tidak terasa waktu begitu cepat. Dulu aku pikir 3 tahun itu adalah waktu yang lama, tapi ternyata salah. Sedikit lagi aku akan melepas pakaian putih abu-abu yang katanya masa-masa itu lah yang paling banyak menyimpan kenangan indah.
             “Hari ini hari terakhir UN, semoga hasil ujian kita bagus yaa, dan kita semua lulus dengan nilai yang memuaskan” harap Dina dengan cemas.
             “Aamiin, semoga kita bisa membuat orang tua kita bangga” Jawab Fara yang memang selama ini dia sangat takut membuat orang tuanya kecewa atau sedih. Sebenarnya bukan hanya Fara, kami semua pun sangat tidak mau membuat orang tua kita kecewa akan apa yang kita lakukan.
             “Iyaaa…kita udah usaha semaksimal yang kita bisa, semoga hasilnya memuaskan. Sekarang kita hanya tinggal banyak-banyak berdoa”
          Beberapa minggu kami menunggu, dan sampailah pada hari pengumuman. Hari yang paling menegangkan. Tapi Alhamdulillah doa kami seangkatan terkabul, kami semua lulus dari SMA. Setelah berjuang menghadapi UN, aku libur sangat panjang yang memang sudah ku tunggu-tunggu, sampai akhirnya aku merasa bosan dengan liburan ini.  Aku ingin cepat-cepat memasuki masa kuliah dengan teman baru dan suasana baru.
          Sebulan kemudian, aku memulai kuliah di suatu kampus swasta ternama di Jakarta. Perasaan senang karena akan menjadi mahasiswi dan juga perasaan takut karena tidak tahu apakah aku akan menemukan teman-teman yang baik seperti dulu, rasa itu bercampur menjadi satu. Aku memasuki kelas dengan rasa ragu, karena tidak seorangpun yang ku kenal. Tak lama setelah aku duduk, ada seorang yang datang dan duduk disebelahku mengajak berkenalan,
             “Hai, kenalin yaa, aku kia”
             “Oh yaa, aku dina. Kamu dari sekolah mana ?”
          Aku dan Kia berbincang-bincang cukup lama karena belum ada dosen yang masuk. Dan ternyata kami mempunyai beberapa teman yang sama, hal itu membuat kami menjadi semakin cepat akrab. Penampilan Kia tidak jauh berbeda dengan ku, dengan celana jeans panjang, sepatu tertutup, dan kaos tangan pendek. Karena merasa bosan dikelas, kami pun keluar dan duduk didepan kelas. Disana ada dua orang teman sekelasku dan Kia mengajak mereka berkenalan.
             “Hai…kenalin aku Kia, ini teman ku Dina”
             “Oh iya…aku Ami dan ini Sari”
          Akhirnya kita beremat berteman dekat, tapi penampilan Ami dan Sari sangat berbeda. Mereka mengenakan baju tangan panjang dan berhijab dengan sangat rapih. Aku tau bahwa sebenarnya berhijab itu wajib bagi seluruh wanita muslimah.
          Waktu berputar begitu cepat, tidak terasa semester 2 sudah selesai dan kami akan memulai semester 3. Sayangnya, semester 3 kelas diacak dan kampus yang menentukan kita masuk dikelas mana. Sangat kecil kemungkinannya untuk kami berempat bisa sekelsa lagi.
   “Aku mau kita sekelas aja sampai nanti kita lulus” kata Dina
   “Aku takut teman sekelas ku nanti tidak ada yang seperti kalian” keluh Kia dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.
   “Semoga nanti teman kelasnya baik-baik semua yaaaa, tapi aku tidak melanjutkan kuliah disini, aku akan pindak ke kota ku, aku ingin dekat dengan orang tua ku” cerita Sari sambil memeluk teman-temannya.
          Libur semester genap cukup lama, aku sudah mulai bosan diam dirumah tidak ada kegiatan. Aku menghubungi teman-teman SMA dan ternyata mereka juga masih libur. Akhirnya kita bertemu di rumah Lia.
   “Kangen banget loh sama kalian semua” ungkap Lia yang sudah lama ingin kumpul, tapi jadwal kuliah sangatlah padat.
             “Samaaaa…Aku juga udah kangen banget, tapi Siti mana yaa?” celingak-celingung mencari Siti.
             “Iya Siti belum sampe yaaaa? Aduh kebiasaan deh dia ngaret” Keluh Fara dengan wajah merengut”
          Tak lama kemudian terdengar suara yang begitu ramai dan heboh, ciri khas suara Siti, dia memang anak yang sangat ceria dan seperti tidak pernah punya masalah atau merasa sedih sepertinya.
“Haaaaiiiii cewe-cewe, kangeeeeeenn…tadi macet banget dijalan, jadi baru sampe deh” Cerita Siti dengan hebohnya.
Dina, Lia, dan Fara hanya diam terpaku melihat penampilan Siti yang begitu berbeda.
   “Ah alasan aja…paling emang jalannya udah ngaret kaaann, kebiasaan” Ledek Fara sambil menepuk pundak Siti.
   “Waaaaahh sekarang Siti berhijab? Cantik banget, kenapa ga dari dulu aja?” Dina bertanya dengan wajah keheranan.
   “Iya nih, udah lama pingin pake hijab, tapi baru yakin dan ngerasa siap setelah masuk kuliah kemarin. Kalian kapan nyusul? Jawabnya dengan ceria dan nada suara yang begitu semangat.
   “Aduh aku belum siap, masih berantakan kalo pake jilbab”
   “Yah nanti aja deh”
   “Belum yakin ah, nanti buka-buka lagi kan malu-maluin”
   “Iya nanti aja kalo udah kerja”
Adityo Hendradi.jpg   “Berhijab itu wajib loh, mau nunggu sampe kapan? Ah payah nih semuanya. Emang kalian rela diliat sama cowo yang pikirannya kemana-mana?” Siti meledek semua teman-temannya dengan wajah sedikit kesal. Dan semua pun hanya tertawa saja.


Tak terasa sudah hampir malam, dan akhirnya semua pun pulang, walau rasa kangennya belum selesai, tapi mereka semua memang tidak boleh pulang terlalu malam.
Seminggu kemudia liburan telah usai, tapi aku tidak bisa masuk kuliah karena sedang sakit. Pada hadi kedua aku baru masuk kelas dengan rasa senang karena memasuki kelas 2, takut karena tidak tau seperti apa teman-temannya, dan aku bukanlah orang yang dengan cepat bisa beradaptasi ditempat baru. Bukan karena sombong, tapi aku memang malu untuk memulai pembicaraan dengan orang-orang yang baru kukenal.
   “Eh kamu, baru masuk hari ini yaa, kemarin kemana? Kamu yang namanya Dina ya?” Tanya mahasiswi didepan.
   “Kemarin sakit, jadi baru masuk sekarang deh… Iya aku Dina”
   “Oh iyaaa, aku nina… Salam kenal yaa”
Aku tersenyum dan langsung mencari temat kosong untuk duduk. Aku merasa sangat canggung berada dikelas itu, tapi akhirnya aku bersahabat dengan Santi, Tia, dan Naya. Kali ini sangat berbeda, sekarang hanya aku saja yang rambut panjangnya tergerai. Yang lainnya berhijab sangat rapih dan tertutup. Dam memang kebetulan dikelas ku yang sekarang lebih banyak yang berhijab
Seperti biasa kami selalu shalat Dzhuhur bersama-sama, dan setelah shalat aku menemani yang lain merapihkan hijabnya di toilet karena disana ada cermin yang cukup besar.
   “Teman-teman ku bisa berhijab, bisa mematuhi perintah Allah SWT, kenapa aku enggak? Kapan aku berhijab” bergumam dalam hati dan mata pun berkaca-kaca menahan tangis.
   “Kamu kenapa Din? Kok bengong gitu?” Pertanyaan Santi yang mebuat Dina tiba-tiba kaget dan tersadar dari lamunannya.
   “Gak ada apa-apa kok San, aku gapapa, lagi ngelamun aja” Dina sambil tersenyum mengalihkan sedihnya.
   “Ngelamunin siapaaa hayoooo siang-siang beginii… haha udah jangan kebanyakan bengong ah Din” ledek Naya.
   “Aku pingin berhijab, tapi aku masih takut” curhat Dina.
   “Waaah bagus dong Din. Aku seneng banget malah dengernya. Terus apa yang kamu takutin? Kamu pasti tambah cantik kok kalo berhijab”
   “Aku takut, nanti kalo udah berhijab, aku buka-buka lagi. Kan malu”
   “Dulu aku juga berpikir sama kaya kamu kok Din. Tapi, lama-kelamaan aku nyaman dengan berhijab, malah kalau ga berhijab aku ga berani keluar rumah”
   “Iya sih, tapiii…”
   “Jangan kebanyakan tapi Din, kalo terlalu banyak alesannya kapan ngejalaninnya. Semua itu bisa karena terbiasa Din”
   “Dalemnya dulu aja deh yang dihijabin. Aku takut orang nilai berhijab tapi kok gimanaaa gitu…”
   “Beda Dinaaaa… Ga bisa disamain… kalau yang luarnya aja susah dihijabin, apa lagi dalemnya kan”
   “Iya Din. Jangan terlalu pikirin omongan orang yang ga enak. Mau gak mau, siap gak siap, kalo kita seorang muslimah, kita harus berhijab Din. Kita kan gak tau umur kita sampai kapan” Saut Santi dengan tegas.
   “Iya Din. Berhijab itu ga nungguin kita siap atau engga, karena setiap muslim wajib menutup auratnya”
Sepulang dari kampus, aku terus memikirkan perkataan teman-temanku. Memang belakangan ini aku selalu terpikir tentang berhijab, dan mulai sering belajar mengenakan hijab dikamarnya. Aku takut nanti hanya sempat menggunakan hijabnya yang pertama dan terakhir seperti kata Ustad Felix



          Aku juga terus memikirkan kalimat yang pernah ku baca “kamu bilang kamu tidak siap untuk berhijab, tetapi kamu siap pahalamu tercecer dan kamu rela memperlihatkan auratmu ke semua orang”
          Akhirnya sejak saat itu, aku memutuskan untuk mengenakan hijab kemanapun aku keluar rumah. Aku tidak mau dosaku semakin menumpuk dan terus menumpuk. Aku tidak mau membuat Allah SWT murka kepada ku. Aku bangga menjadi seorang muslimah dan aku bangga berhijab J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar