Belum
lama ini pemerintah memperkecil subsidinya terhadap Bahan Bakar Minyak (BBM),
seingga terjadi kenaikan harga terhadap BBM bersubsidi. Harusnya dengan
kenaikan harga tersebut, pengguna BBM bersubsidi berkurang. Sehingga pemerintah
bisa memperkecil impor BBM. Tapi sayangnya masih banyak masyarakat kalangan
menengah keatas tidak malu untuk menggunakan BBM bersubsidi untuk mobil mewah
yang dimilikinya.
Sedangkan
saat ini sektor industri juga menghadapi masalah produksi. Beberapa industri di
Indonesia masih bergantung pada penggunaan bahan baku impor dan menggunakan
mesin-mesin produksi yang diimpor dari luar negeri. Hal ini akan menyebabkan
peningkatan biaya produksi bila terjadi kenaikan harga pada barang yang diimpor
tersebut. Belum lagi tingginya biaya roduksi yang diakibatnya dari naiknya
biaya transportasi. Dengan demikian masyarakat juga terkena dampaknya karena
akan terjadi kenaikan harga pada barang-barang hasil produksi.
Pemerintah
dan Bank Indonesia (BI) sudah berupaya untuk mengatasi masalah tersebut dengan
menjalankan empat paket kebijakan penyelamatan ekonomi, yaitu perbaikan neraca
transaksi perjalanan dan menjaga nilai tukar rupiah, pemberian insentif, dan
menjaga daya beli masyarakat serta menjaga tingkat inflasi. Masyarakat juga harus
berupaya untuk meningkatkan daya saing dan kualitas produk dalam negeri.
Sehingga masyarakat bisa mengurangi impor dan mampu mengurangi efek buruk dari
inflasi impor.
Naiknya
biaya transportasi dan juga naiknya harga pangan itulah yang menjadi faktor
tingginya inflasi di tahun 2013 ini. Badan
Pusat Statistik melansir inflasi Juli sebesar 3,29 persen atau 8,61 persen
secara year on year. Level ini lebih tinggi dari perkiraan BI yakni 2,87
persen.
SUMBER :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar