Minggu, 10 November 2013

MELEMAHNYA NILAI TUKAR RUPIAH

Artikel dalam bentuk paragraf deduktif (REVISI)

        Sejak Juni 2013, nilai tukar Rupiah di Indnesia cendrung melemah. Hal yang sama juga dialami oleh mata uang beberapa negara emerging markets lainnya. Selama Juni-Agustus 2013, nilai tukar Lira Turki jatuh sebesar 10 persen; nilai tukar Rupee India jatuh sebesar 20 persen; dan nilai tukar Rupiah serta Real Brazil jatuh sekitar 15 persen.
         Lemahnya nilai tukar Rupiah salah satunya disebabkan oleh tingginya impor jika dibandingkan dengan ekspor. Tingkat impor yang terlalu tinggi tidak tertutupi oleh tingkat ekspor yang masih relatif lebih sedikit, sehingga menyebabkan negatif atau defisitnya neraca perdagangan. Dengan defisitnya neraca perdagangan, berarti kita tidak menerima pemasukan lebih dalam bentuk uang asing atau dalam bentuk dollar yang sering disebut sebagai devisa negara.
          Kurangnya devisa atau jumlah uang asing dalam suatu negara akan menyebabkan lebih banyak uang rupiah bila dbandingkan dengan mata uang asing. Nilai tukar sebuah mata uang ditentukan oleh relasi penawaran-permintaan (supply-demand) atas mata uang tersebut. Jika permintaan atas sebuah mata uang meningkat, sementara penawarannya tetap atau menurun, maka nilai tukar mata uang itu akan naik. Kalau penawaran sebuah mata uang meningkat, sementara permintaannya tetap atau menurun, maka nilai tukar mata uang itu akan melemah. Dengan demikian, Rupiah melemah karena penawaran atasnya tinggi, sementara permintaan atasnya rendah.
          Untuk memperbaiki defisitnya neraca perdagangan, maka kita harus berupaya semaksimal mungkin untuk meningkat ekspor ke luar negeri dan mengurangi impor, tapi sayangnya 70% bahan baku yang digunakan oleh industry manufaktur masih bergantung pada bahan baku yang diimpor dari luar negeri. Oleh karena itu masyarakat masih harus berusaha untuk membuat produk asli dalam negeri dan lebih mencintai produk milik negeri sendiri.


SUMBER :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar